Hobby Zina, Tak Kunjung Sadar


Oleh Sadari Mintarja


وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِيْٓ اٰدَمَ

"Dan sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam." (QS. Al-Isra': 70)

Kita hidup di era kelezatan sesaat lebih memikat daripada berkah yang kekal. Tanpa sadar, banyak dari kita meninggalkan yang halal karena bosan, lalu menerjang yang haram karena nafsu membungkus racun dengan madu. Padahal, kelak di hadapan kita akan ada dua meja: satu berisi daging segar yang baik, satu lagi berisi bangkai bernanah.

Inilah potret tragis manusia yang melupakan kemuliaan dirinya sebagai makhluk yang Allah muliakan.

Allah menegaskan batasan tegas:

وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا ۖ إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا

"Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah perbuatan keji dan seburuk-buruk jalan." (QS. Al-Isra': 32)

Kemuliaan bukan pada pemenuhan syahwat tanpa batas, bukan pada kebebasan semu yang menjerumuskan. Kemuliaan ada pada ketakwaan yang menjaga diri dari bangkai bernanah, meskipun daging segar terasa biasa dan tidak menggoda.

Ketika kita berani menghidupkan Laa ilaaha illallah, kita menundukkan nafsu yang membisikkan kelezatan haram. Nafsu adalah sesembahan palsu terdekat. Dan dengan Iyyaka na'budu, kita tegaskan: kepatuhan total hanya untuk Allah, bukan untuk nafsu yang memperdaya.

---

Sebut saja namanya Fulan. Di mata tetangga, ia suami baik, ayah penyayang. Tapi dibalik-  senyumnya, ada luka yang tak terlihat. Pernikahannya hambar—bukan karena kurang kasih sayang istri, tapi karena hatinya telah teracuni tayangan haram dan godaan rekan kerja yang membenarkan perselingkuhan.

Awalnya hanya "curhat" dengan lawan jenis di medsos. Lalu pertemuan rahasia, janji manis, dan akhirnya—terjatuh ke jurang zina. Bukan sekali. Berkali-kali. Ia mulai menjadikan zina sebagai hobby pelarian dari kebosanan rumah tangga.

Ia meninggalkan daging halal di rumahnya. Ia memilih bangkai bernanah yang dibungkus parfum dosa.

Namun, setelah "puas", yang ia dapatkan bukanlah kebahagiaan, melainkan:

🔥Hati makin kering.
🔥Tak bisa menatap mata istri dengan jujur.
🔥Rasa bersalah membusukkan jiwa dari dalam.
🔥Tidur gelisah, doa terasa tertolak.

Ia merasakan firman Allah:

وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَىٰ

"Dan orang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain." (QS. Fatir: 18)

Ia memikul sendiri busuk dosanya. Sendirian.

---

Suatu malam Ramadhan, setelah tarawih, Fulan membuka ponsel dan tanpa sengaja melihat kajian tentang hadits Isra’ Mi’raj. Suara ustadz lirih namun menusuk kalbu:

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: "أَتَيْتُ عَلَى قَوْمٍ تُقْطَعُ لُحُومُ جُنُوبِهِمْ ثُمَّ يُقَالُ لَهُمْ: كُلُوا كَمَا كُنْتُمْ تَأْكُلُونَ لُحُومَ النَّاسِ"

Dari Abu Sa'id al-Khudri RA, ia berkata:? “Rasulullah SAW bersabda: 'Aku didatangkan kepada suatu kaum yang dipotong daging lambung mereka, kemudian dikatakan kepada mereka: "Makanlah, sebagaimana dahulu kalian memakan daging manusia."'”

Fulan terdiam. Dadanya sesak. Air mata jatuh tanpa suara. Selama ini ia pikir dosanya hanya urusan pribadi. Ternyata di hadapan Allah, ia sedang memakan bangkai busuk dengan lahap—dan ia hobby melakukannya.

Kesadaran itu datang seperti petir di malam sunyi. Ia berwudhu, lalu sujud lama. Dalam sujud, ia berbisik:

"Ya Allah, ampunilah aku. Aku telah memilih nanah dan meninggalkan yang segar. Aku menjadikan dosa sebagai hobby. Kembalikanlah aku pada keluarga yang Engkau anugerahkan."

Itulah tarbiyah sebagai self healing: bukan terapi mahal, bukan konseling kekinian, tapi kembalinya jiwa pada Penciptanya. Allah berfirman:

أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

"Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram." (QS. Ar-Ra'd: 28)

Fulan memblokir semua pintu dosa. Mengakui kesalahan pada istri dengan ketulusan seorang hamba yang bertobat. Ia berikrar:

Asyhadu an laa ilaaha illallah wa asyhadu anna Muhammadar Rasulullah.

Fulan tidak lagi memperbudak nafsunya. Ia memilih hidup sebagai hamba Allah yang merdeka.

---

Kini, lihatlah Fulan yang baru.

Rumah tangganya tidak langsung sempurna. Butuh waktu membangun kembali kepercayaan. Tapi ketenangan yang hilang bertahun-tahun, kini kembali mengalir. Istrinya melihat perubahan: Fulan lebih banyak tersenyum, lebih lembut bicara, lebih rajin ibadah. Anak-anak merasakan kehangatan yang dulu sempat hilang.

Setiap malam, sebelum tidur, ia mengucap Alhamdulillah—bukan karena hidup mudah, tapi karena Allah menyelamatkannya dari meja bangkai yang hampir membinasakannya.

Fulan menemukan hakikat:

إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ

"Sesungguhnya perbuatan-perbuatan baik itu menghapus kesalahan-kesalahan." (QS. Hud: 114)

Ia sadar: kenikmatan haram tidak sebanding dengan setetes ketenangan yang hilang dari hati.

---

Saudaraku... yang mungkin saat ini sedang menjadikan zina sebagai hobby pelarian. Atau sedang di ambang perselingkuhan, meracuni diri dengan janji manis dunia.

Dengarkan ini: Allah telah menyediakan untukmu daging segar dan halal. Jangan kau tukar dengan bangkai bernanah.

Setiap kali nafsumu berbisik, ingatlah pemandangan Isra’ Mi’raj: orang-orang yang memilih busuk, padahal di tangan mereka ada yang baik.

Tarbiyah sebagai self healing bukanlah konsep mahal. Ia adalah keputusan untuk berhenti melukai diri sendiri dengan dosa, dan kembali pada pelukan Allah yang Maha Pengampun.

Kembalilah ke pangkuan Allah. Tobat itu pintuNya selalu terbuka. Allah tidak akan pernah mencampakkan hamba yang kembali dengan hati hancur karena cinta.

يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ ارْجِعِي إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً

"Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Rabbmu dengan hati yang rida dan diridhai-Nya." (QS. Al-Fajr: 27-28)

Semoga Allah menyembuhkan luka-luka rahasia kita dengan cahaya hidayah-Nya

1 komentar untuk "Hobby Zina, Tak Kunjung Sadar"