Oleh Agus Wahid
Tak ada catatan dalam sejarah AS-Israel merengek-rengek minta gencatan senjata, dengan dalih apapun. Tapi, kali ini, setelah Iran melakukan perlawanan ekstra keras dan menghancurkan kekuatan strategis, di samping manuver penutupan Selat Hormuz, Paman Sam dan Zionis itu mendesak gencatan senjata dua pekan.
Sesungguhnya Iran tak percaya. Karenanya, negeri “Mullah” ini menyuguhkan sepuluh prasyarat yang sesungguhnya irasional, yang semuanya menguntungkan Iran. Namun, AS khususnya – melalui jumpa pers kemarin malam – menyatakan gencatan senjata. Apa daya. Iran pun mencoba membuka pintu gencatan itu.
Yang perlu kita catat, rengekan gencatan sejata AS-Iran mununjukkan kekalahan totalnya dalam menghadapi kekuatan Iran yang di luar dugaan.
Di tengah kecamuk perang yang berpotensi menyeret banyak negara, ada satu variabel mendasar yang layak kita kita garis-bawahi. Yaitu, tiadanya kecerdasan akal dan nurani sehat dalam diri sang pemimpin negara besar seperti AS.
Sebagai negara besar, ia memiliki perangkat yang sangat mumpuni. Yaitu, intelegen (CIA) yang terkenal handal, akurat informasinya, bahkan mampu menciptakan rekayasa untuk menguak kondisi riilnya.
Dalam hal ini, CIA sangatlah tidak mungkin tidak mengetahui persis perubahan peta kekuatan Iran, dari sisi persenjataan yang super canggihnya, kebangkitan ekonominya yang menunjang daya tahan dan soliditas pemerintahannya, dalam konteks birokrasi dan sistem komando kemiliterannya.
Bahkan, sangatlah tidak mungkin CIA tak mengetahui persis perkembangan kultural masyarakat Iran yang demikian menyatu secara idealistik dengan pemerintahnya.
Dan satu lagi, sangatlah tidak mungkin AS tidak mengetahui perkembangan global terkait kemesraan hubungan Iran dengan Rusia, China, Korea Utara bahkan Pakistan dan Yaman. Semua itu, harusnya menjadi bahan mendasar untuk dijadikan pijakan keputusan yang sangat krusial, terutama saat harus menentukan perang dan atau sebaliknya. Namun, ketidakcerdasan akal dan nurani seorang Donal Trump mengabaikan serangkaian data vital yang ada dalam diri Iran.
Trump menganggap sepi perubahan topografi kekuatan Iran yang mengejutkan itu, dari sisi militer dan sistem pertahanannya, atau perubahan signifikan lainnya. Trump masih tetap berhalusinasi bahwa Iran tak jauh beda kondisi kekuatannya seperti era awal 1980, saat Iran baru berganti system perintahannya di bawah Imam Besar Khomaeni. Trump juga menganggap tiada korelasi positif hubungan mesra Iran dengan negara-negara pemilik nuklir itu.
Meski telah terjadi miskalkulasi yang sangat fatal, Trump masih tetap mamaksakan ambisinya untuk memusnahkan Iran. Bahkan, sesumbar, akan kembalikan Iran ke zaman batu. Ambisiusitas yang sagat foolish (bapaknya bodoh).
Sikap ini terjadi karena bukan hanya bodoh secara akliyah, tapi juga nuraninya memag sudah terkikis. Jika kita buka lembaran catatan biografinya, Trump memang sosok yang cacat mental sejak anak-anak.
Dengan modal cacat mental seperti ini pantaslah Trump bukan hanya mengabaikan data intelegen yang disuguhkan, tapi juga mengabaikan saran atau nasehat inner circlenya. Bahkan, Trump pun makin membabi buta: para jenderal yang berseberangan dengan kehijakannya dicopot.
Beberapa jenderal yang dipecat itu, di antaranya Jend. Randy George (KSAD), Mayjend. William Green Jr. (Kepala Pendeta Militer AS) dipecat secara tidak resmi. Jend. David Horne (Komandan Komando Transformasi dan Pelatihan Angkatan Darat) yang dipecat tanpa keterangan resmi.
Sehari setelah Trump mengumumkan perang terhadap Iran, beberapa pejabat militer protes, tapi ikut dipecat, termasuk Josepty Kent (Kepala Pusat Kontra Terorisme Nasional AS).
Pemecetan itu menggambarkan ketidakwarasan Trump secara mental, sekaligus kebodohan akalnya. Ia mengabaikan para jenderal yang tahu persis kekuatan Iran saat ini, karenanya tidak menghendaki perang. Yang lebih memiriskan bagi kepentingan nasional AS itu sendiri, Trump lebih kepencut desakan Netanyahu untuk menyerang Iran daripada rakyatnya yang berdemo untuk menghindari perang frontal.
Kembali lagi pada persoalan mental Trump yang foolish (super dull or stupid) dan hilang nuraninya, sekitar sepuluh juta aksi demo warga AS dari berbagai kota, bahkan solidaritas demo pro kemanusiaan dari berbagai negara dipandang sebelah mata. Jika Trump sehat akal-nurani, demo anti Trump demikian sarkastik. Tapi, mengapa dipandang sepi?
Satu lagi yang membuat dunia internasional tak habis pikir, ajakan Trump kepada negara-negara Eropa ditolak mentah-mentah. NATO pun tegas sikapnya: aliansi pertahanannya untuk kepentingan wilayah Eropa, bukan kawasan lainnya.
Penolakan Eropa secara terbuka tidak dinilai jernih. Trump justru menilai Eropa sebagai pengkhianat. Trump tidak menyadari bahwa keterlibatannya yang berhadapan langsung dengan Iran berarti mengancam kedaulatan negaranya, minimal dari sisi ancaman krisis energi. Masing-masing negaranya akan langsung dibanyang-bayangi krisis ekonomi, meski bermula dari krisis energi yang tak bisa terimpor ke negaranya masing-masing.
Kini, Trump – karena kebodohannya yang superlatif – sedang siap-siap menghadapi krisis kekuasaan. Tinggal menunggu hari. Sebagian besar anggota Kongres dari Partai Republican sudah memahami kekeliruannya dalam menyusung Trump. Jika tetap mempertahankannya, sama artinya akan mendorong AS ke dalam jurang kehancuran.
Bukan hanya negaranya akan menjadi sasaran empuk rudal-rudal balistiknya, tapi krisis ekonominya yang super drop akibat krisis energi. Saat ini saja, harga BBM sudah mencapai sekitar AS$ 10 per galan, naik sekitar 300% dari kondisi sebelum perang.
Akhir kata, ada kalaimat yang layak kita renungkan bersama. “Ketika sang pemimpin hilang kecerdasan akal-hatinya, tunggulah kehancuran negaranya”. Hal ini menunjukkan, kecerdasan akal-hati menjadi faktor determinan untuk mencegah kehancuran negara.
Sebuah refleksi penting untuk kita, apakah pemimpin kita akan mengabaikan kecerdasan akal-hatinya saat melihat kondisi riil rakyat dan negaranya? Jika mengabaikannya, berarti negeri kita pun sedang dibayang-bayangi kehancuran. Semoga, pemimpin kita pun bisa berkaca pada panorama Donald Trump. Wibawa negara hancur karena ulah sang pemimpin yang foolish. Kepentingan ekonominya juga diambang collapse karena angkuh dan menindas negara lain (Iran) yang kebetulan miskalkukasi.
Let`s think deeply the urgency of intelligence smart (brainy) and conscience. Sangat penting bagi sosok pemimpin. Dua faktor penting, yang – in syaa Allah – akan mencegah terjadinya kehacuran negara yang dipimpinnya.
Yang teramat penting, jika dua faktor determinan itu disadari, bagaimana mengartikulasikannya. Dalam konteks Indonesia, ada urgensi untuk keluar dari Board of Peace (BoP) yang jelas-jelas tidak fungsional. Sama sekali tak berarti.
Malah, keberadaan RI di BoP menjadi faktor reduktif bagi hubungan mesra dengan Iran. Jika Iran bersikap “membalas dengan air tuba atas RI yang dilakukannya terhadap negeri Mullah itu”, maka krisis energi bahkan krisis nasional bukanlah fatamorgana.
Untunglah, sosok pemimpin Iran jauh lebih dewasa. Tidak mudah ngambek. Tetap menjaga ikatan emosionalitas persahabatan antar dua negara yang mayortitas berpenduduk muslim. Karenanya, dua kapal tanker migas Indonesia siap melintasi Selat Hormuz, pasca tak dizinkan beberapa pekan. Sebuah kebijakan karena potret sosok pemimpin Iran yang cerdas akal dan hatinya. Layak diterjemahkan oleh pemimpin manapun di dunia ini.
Tasikmalaya, 09 April 2026
Penulis: Analis politik dan kebijakan publik

Posting Komentar untuk "URGENSI KECERDASAN AKAL-HATI PEMIMPIN: FAKTOR DETERMINAN PENCEGAH KEHANCURAN NEGARA"