Oleh Fahmi Arif El Muniry
Bagi santri yang pernah mengaji kitab tafsir di pesantren, kisah Bal’am bin Ba’ura tentu bukan cerita asing. Walaupun tidak sepopuler kisah Kiai Barseso. Nama Bal’am bin Ba’ura sering muncul ketika kiai-santri mbalah kitab Tafsir Ibn Katsir, Tafsir Jalalayn, atau kitab-kitab tafsir lain di forum bandongan, sorogan, atau musyawarah. Para kiai biasanya menyampaikan cerita ini dengan nada lirih tetapi menghunjam, sebab Bal’am bukan orang bodoh, melainkan ahli ibadah yang akhirnya tergelincir karena kehilangan adab dan ketulusan.
Ada orang-orang yang jatuh bukan karena mereka tidak tahu jalan pulang, tetapi karena terlalu lama menikmati tepuk tangan di persimpangan. Dalam sejarah tua agama-agama, nama Bal’am bin Ba’ura sering muncul seperti bayangan gelap yang mengingatkan manusia tentang satu hal; ilmu bisa menjadi cahaya, tetapi juga bisa berubah menjadi api yang membakar pemiliknya sendiri.
Konon, Bal’am bukan orang biasa. Ia bukan tukang tipu yang baru belajar agama kemarin sore. Dalam banyak kitab tafsir klasik, ia disebut sebagai ahli ibadah yang mengenal Kitabullah dan Taurat, seorang alim yang hafal doa-doa langit, bahkan mengetahui Ismul A’dzam, nama Allah yang Agung, yang diyakini membuat doanya tak tertolak. Orang-orang datang kepadanya dengan hormat. Ia didengar. Ia dimuliakan. Barangkali, kalau hidup hari ini, ia sudah punya jutaan followers, ceramahnya dipotong-potong jadi video pendek reels atau tiktok, lalu beredar ke mana-mana.
Tapi sejarah sering bergerak bukan ketika orang bodoh melakukan kesalahan, melainkan ketika orang alim mulai merasa dirinya aman dari godaan. Dalam Tafsir Ibn Katsir dikisahkan, petaka itu bermula ketika kekuasaan datang mengetuk pintu. Raja Balak bin Sipir ketakutan melihat Nabi Musa dan pengikutnya. Lalu seperti semua penguasa yang panik, ia mencari legitimasi agama. Ia mendatangi Bal’am. Ia membawa hadiah. Harta. Kedudukan. Pengaruh.
Awalnya Bal’am menolak. Ia tahu Musa berada di jalan yang benar. Ia tahu mana nabi dan mana tiran. Tetapi manusia sering tidak jatuh dalam satu malam. Keruntuhan biasanya dimulai dari kompromi-kompromi kecil yang terasa masuk akal. Mungkin mula-mula hanya menerima tamu kerajaan. Lalu menerima hadiah. Lalu mulai berpikir: “Bukankah aku masih bisa menjaga diri?” Sampai akhirnya ilmu yang dulu membuatnya tunduk kepada Tuhan berubah menjadi alat tawar-menawar dengan kekuasaan.
Di situlah Al-Qur’an menghadirkan salah satu metafora paling menyakitkan dalam Surah Al-A’raf ayat 175-176. Bal’am diibaratkan seperti anjing yang terus menjulurkan lidah, diusir atau tidak, tetap menjulurkan lidah. Para mufasir mengatakan itu simbol kerakusan yang tidak pernah selesai. Nafsu yang terus lapar. Ambisi yang terus haus.
Ketika Agama Kehilangan Rasa Malu
Kisah Bal’am selalu terasa modern. Ia muncul kembali dalam banyak wajah. Kadang memakai sorban. Kadang memakai jas. Kadang duduk di mimbar. Kadang mengelola lembaga pendidikan. Orang-orang seperti ini tidak kekurangan dalil. Mereka hanya kekurangan hati.
Suatu hari, di lingkungan Pesantren Futuhiyyah Suburan Mranggen Demak, dalam sebuah pengajian kitab kuning yang saya ikuti, pengasuh Pesantren Al-Anwar, Al Marhum Al Maghfurlah KH. Abdul Bashir Hamzah ketika mengaji Kitab Tafsir Jalalyn sebenarnya sudah lama mengingatkan soal itu. Karena itulah, pesantren tidak pernah hanya mengajarkan ilmu. Yang lebih penting justru adab. Santri boleh lupa nadzam Alfiyah. Bisa saja salah membaca kitab kuning utawi iki iku. Tapi jangan sampai kehilangan rasa hormat kepada manusia. Sebab orang pintar yang tidak punya adab sering lebih berbahaya daripada orang bodoh.
Di banyak pesantren di kampung, pendidikan justru dimulai dari hal-hal kecil yang tampak remeh. Antre mandi. Menyapu halaman. Mencuci piring sendiri. Menundukkan suara ketika lewat di depan ndalem kiai. Di situ santri sedang diajari bahwa hidup bukan soal menjadi paling tinggi, tetapi belajar tahu batas diri. Tradisi itu disebut khidmah. Bukan sekadar membantu pekerjaan pesantren, melainkan latihan membersihkan ego.
Dalam Kitab Ta’lim al-Muta’allim karya Syaikh Burhanuddin Az-Zarnuji disebutkan bahwa ilmu tidak akan berkah tanpa penghormatan kepada guru dan kebersihan niat. Karena itu, di pesantren, santri kadang lebih takut kehilangan adab daripada kehilangan hafalan.
Hadhratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari dalam Adabul Alim wal Muta’allim juga menulis bahwa orang alim harus menjaga kehormatan dirinya dan memperlakukan murid dengan kasih sayang. Sebab guru bukan penguasa jiwa santri. Guru hanya penjaga jalan.
Sementara KH. Bisri Musthofa, kiai dan ulama kharismatik dari Rembang itu, sering berbicara agama dengan bahasa yang hangat seperti obrolan warung kopi. Dalam Tafsir Al-Ibriz, beliau menerjemahkan ayat-ayat langit dengan bahasa rakyat kecil. Tidak menggurui. Tidak meninggikan diri. Barangkali karena beliau tahu hahwa orang yang benar-benar berilmu biasanya justru semakin lembut.
Pesantren Ramah Anak
Pesantren dibangun di atas cinta. Bukan cinta yang cengeng. Tapi cinta yang membuat orang merasa aman untuk tumbuh. Hari ini kita sering mendengar istilah “pesantren ramah anak”. Sebenarnya inti ajaran itu sudah lama hidup di pesantren-pesantren. Santri dijaga martabatnya. Tidak dipermalukan di depan umum. Tidak dihancurkan mentalnya atas nama disiplin. Sebab tujuan pendidikan bukan membuat anak takut, tetapi membuat mereka sadar.
Baginda Nabi Muhammad sendiri mendidik dengan kelembutan. Beliau menegur tanpa merendahkan. Mengingatkan tanpa mempermalukan. Karena itu, ketika ada kekerasan seksual, penyalahgunaan kuasa, atau pelecehan berkedok agama, masalahnya bukan pada pesantrennya. Masalahnya muncul ketika orang mulai memakai agama untuk memuaskan dirinya sendiri.
Di situlah Bal’am selalu menemukan bentuk barunya. Ia lahir ketika ilmu tidak lagi membuat orang takut kepada Allah. Ia tumbuh ketika kedudukan lebih penting daripada kejujuran. Ia besar ketika manusia lebih sibuk menjaga citra daripada menjaga hati.
Dan mungkin, pelajaran paling penting dari kisah Bal’am bukanlah tentang betapa tingginya ilmu seseorang. Melainkan betapa rapuhnya manusia ketika kehilangan adab. Sebab ilmu bisa dicari. Jabatan bisa diberikan. Pengaruh bisa dibangun. Tetapi hati yang bersih, itu yang paling sulit dijaga. Wallahul musta’an.
Fahmi Arif El Muniry (Alumnus Pascasarjana Program Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Univeritas PTIQ Jakarta, Khodim Pesantren Laku Luhur Al Mahabbah Demak)
https://kemenag.go.id/opini/balam-bin-baura-ketika-ilmu-kehilangan-adab-dan-pendidikan-kehilangan-cinta-Dzaho
Posting Komentar untuk "Kisah Bal'am bin Baura: Ketika Ilmu Kehilangan Adab dan Pendidikan Kehilangan Cinta "