![]() |
| Dudu Rohman (kiri). Foto Kemenag Jabar |
Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Barat, H. Dudu Rohman, S.Ag., M.Si, menegaskan pesantren tidak hanya berfungsi sebagai lembaga pendidikan keagamaan, tetapi juga sebagai pusat pembentukan sumber daya manusia yang berkarakter kuat.
Pesantren, menurutnya, membentuk kepemimpinan, mentalitas, dan cara berpikir santri agar siap berperan di berbagai bidang kehidupan, baik sebagai pedagang, pengusaha, aparatur negara, maupun pemimpin bangsa.
“Menjadi pemimpin di bidang apa pun membutuhkan karakter. Di pesantren, karakter itu dibentu, bukan hanya melalui teori, tetapi melalui praktik kehidupan sehari-hari,” kata Dudu Rohman dalam Talkshow Budaya dan Pendidikan Agama Islam yang digelar di Pondok Pesantren Al Ihya, Kabupaten Subang, Kamis (18/12/2025).
Ia menekankan bahwa dalam kehidupan modern, keberhasilan dan kepercayaan sosial tidak lagi ditentukan oleh kesamaan suku atau agama, melainkan oleh akhlak dan integritas.
Oleh karena itu, tegasnya, pendidikan agama Islam harus menyentuh pembinaan hati (qalbu), karena dari sanalah lahir sikap, perilaku, dan kebiasaan hidup.
“Rasulullah SAW menegaskan bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling baik akhlaknya. Inilah fondasi utama pendidikan karakter di pesantren,” terangnya.
Sementara itu, Pengasuh Ponpes Al-Ihya, KH. Asep Sulaeman Sabanda menyampaikan bahwa Pesantren Al Ihya berkomitmen membentuk santri yang tidak hanya unggul dalam ilmu agama, tetapi juga memiliki mental pemimpin, wawasan luas, serta kepercayaan diri. Santri dibina agar tidak memiliki mental inferior dan mampu berkontribusi nyata di tengah masyarakat.
Menurutnya, pesantren juga terus membuka wawasan santri melalui kajian, dialog budaya, serta kerja sama dengan berbagai pihak sebagai bagian dari pembentukan karakter dan pola pikir global tanpa meninggalkan nilai-nilai keislaman.
Pada kesempatan yang sama, Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Subang, Dr. H. Badruzaman, S.Ag., M.Pd, menyampaikan bahwa talkshow budaya dan pendidikan agama Islam ini merupakan salah satu rangkaian strategis dalam peringatan Hari Amal Bhakti Kementerian Agama, yang tidak hanya bersifat seremonial, tetapi juga akademik dan edukatif.
Ia menilai pesantren memiliki peran sentral dalam menjaga keseimbangan antara pendidikan agama, budaya, dan pembentukan karakter generasi muda. Melalui forum dialog seperti ini, menurutnya, nilai-nilai pesantren dapat terus diperkuat dan dikontekstualisasikan dengan tantangan zaman.
“Pesantren adalah mitra strategis Kementerian Agama dalam membangun peradaban. Dari pesantren lahir generasi yang berakhlak, berbudaya, dan memiliki komitmen kebangsaan yang kuat,” ungkapnya.
Ia berharap kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan sebagai bagian dari ikhtiar bersama dalam memperkuat pendidikan agama Islam, budaya, dan karakter bangsa, khususnya di Kabupaten Subang. (kmg|mnm)

Posting Komentar untuk "Pesantren Punya Nilai Strategis dalam Pembentukan Karakter Bangsa"