Oleh Sadari Mintarja
Ketika Indonesia belum genap dua tahun menyandang status sebagai negara merdeka, di tengah ancaman kembalinya Belanda dengan kekuatan senjata, para pendiri bangsa menyadari bahwa kemerdekaan tidak akan kokoh tanpa pengakuan dunia.
Di sanalah peran saudara seiman dari Timur Tengah kembali hadir— yang kelak mengubah jalannya sejarah.
Perjalanan menuju surat pengakuan kedaulatan itu tidaklah pendek. Ia berawal dari suara seorang mufti agung di Palestina, merambat melalui gelombang radio yang menerjang angkasa, menyentuh hati para pemuda Ikhwanul Muslimin di tepi Sungai Nil, dan akhirnya menjelma menjadi sebuah dokumen suci yang dibawa pulang dengan taruhan nyawa oleh seorang putra bangsa bernama Abdurrahman Baswedan.
“Kami, Pemerintah Mesir, dengan ini mengakui kedaulatan penuh Republik Indonesia…”
-Kutipan dari naskah perjanjian persahabatan Mesir-Indonesia, 10 Juni 1947
I. Suara dari Tanah Suci: Mufti Palestina yang Tak Pernah Diam
Perlukah kita tahu, saudaraku, bahwa jauh sebelum para diplomat Indonesia menginjakkan kaki di Kairo, telah ada seorang ulama besar Palestina yang dengan lantang menyerukan dukungannya bagi kemerdekaan Indonesia? Dia adalah Syeikh Muhammad Amin Al-Husaini, Mufti Besar Palestina, seorang ulama yang sangat berpengaruh di dunia Islam. Di saat Indonesia merintih dalam kepungan penjajah Belanda, di saat negara-negara besar dunia masih ragu-ragu mengakui hak Indonesia untuk merdeka, mufti agung dari Yerusalem itu telah berdiri di garda terdepan.
Pada tanggal 6 September 1944—hampir setahun sebelum Proklamasi 17 Agustus 1945— Syeikh Amin Al-Husaini menyampaikan pidato bersejarah melalui Radio Berlin dalam bahasa Arab. Dengan suara yang menggelegar, ia secara terbuka menyatakan dukungannya terhadap kemerdekaan Indonesia dan menyerukan kepada seluruh negara Muslim di dunia untuk melakukan hal yang sama. Bayangkan, saudaraku: seorang pemimpin Muslim dari Palestina, yang saat itu juga sedang berjuang melawan ancaman Zionis yang ingin merebut Al-Quds, masih memiliki ruang di hatinya untuk memperjuangkan saudaranya di Nusantara!
Seruan dari Mufti Palestina ini diakui oleh para sejarawan sebagai salah satu pernyataan paling awal dari seorang pemimpin dunia Muslim yang memberikan pengakuan dan dukungan internasional terhadap hak-hak Indonesia untuk merdeka. Tidak berhenti di situ, beliau juga aktif melobi para pemimpin negara-negara Timur Tengah untuk mengakui dan membela kemerdekaan Indonesia. Sungguh, semangat persaudaraan Islam telah menerjang batas-batas geografis dan politik!
II. Radio Kairo Bergema: Indonesia Raya Berkumandang
Sementara itu, di Mesir, gelombang dukungan terhadap Indonesia terus bergerak deras. Di sanalah Ikhwanul Muslimin memainkan peran yang tidak bisa diabaikan. Pimpinan tertinggi Ikhwan, Syekh Hasan Al-Banna, bersama para ulama dan organisasi Islam di Timur Tengah, mendirikan Panitia Pembela Indonesia pada Oktober 1945.
Mereka tidak hanya sekedar berbicara di ruang-ruang tertutup. Ikhwanul Muslimin mengerahkan massa untuk turun ke jalan, berdemonstrasi di depan Kedutaan Besar Belanda di Kairo, bahkan menghalau kapal-kapal Belanda yang melewati Terusan Suez. Dengan lantang mereka meneriakkan: “Merdekalah Indonesia!”
Pemerintah Mesir, di bawah kepemimpinan Raja Farouk, sangat terbantu oleh gelora dukungan rakyat ini. Ketika para diplomat dan pelajar Indonesia tiba di Mesir untuk merayakan kemerdekaan nasional pertama mereka di negeri asing, Mesir dengan murah hati memberikan corong Radio Kairo untuk mengumandangkan lagu ‘Indonesia Raya’ ke seluruh penjuru. Bayangkan betapa harunya para perantau Indonesia mendengar irama tanah air bergema di negeri Piramida itu. Itu semua tidak terlepas dari lobi dan tekanan politik yang dilakukan oleh Ikhwanul Muslimin di balik layar.
Pada kesempatan itu, berbagai tokoh bangsa Indonesia seperti Sutan Syahrir dan H. Agus Salim menemui langsung Syekh Hasan Al-Banna, sang Mursyid Am Ikhwanul Muslimin, untuk menyampaikan rasa terima kasih dan mempererat ikatan persaudaraan. Hasan Al-Banna bahkan sempat mengunjungi Indonesia. Pada 6 Juni 1947, beliau mendarat di Yogyakarta menemui H. Agus Salim, Sutan Sjahrir, dan Nazir Sutan Pamuncak untuk mendeklarasikan dukungan penuh bagi kemerdekaan Indonesia. Itu adalah pernyataan politik yang gamblang: Ikhwanul Muslimin berdiri tegak di sisi kemerdekaan Indonesia.
III. Utusan dari Yogyakarta: Perjalanan Berbalut Nyawa
Semua dukungan moral dan politik yang mengalir deras itu akhirnya membuahkan undangan resmi. Pada bulan Maret 1947, Konsul Jenderal Mesir di Bombay (Mumbai), Muhammad Abdul Mun‘im, melakukan perjalanan berbahaya ke Yogyakarta, ibu kota perjuangan Republik Indonesia saat itu. Ia datang sebagai utusan yang membawa kabar penting: Liga Arab telah mengakui kedaulatan Indonesia dan mengundang perwakilan resmi Indonesia untuk datang ke Kairo.
Presiden Soekarno segera merespons. Sebuah tim delegasi papan bawah dibentuk. Dipimpin oleh H. Agus Salim—Menteri Muda Luar Negeri yang jenius—rombongan itu terdiri dari putra-putra terbaik bangsa: Abdurrahman (AR), Mr. Nazir Pamoentjak, dan Prof. Dr. HM Rasjidi (yang saat itu belum bergelar profesor). Mereka bertolak ke Mesir pada April 1947. Tugas mereka berat: mendapatkan pengakuan resmi de jure dari pemerintah Mesir.
Namun, perjalanan ini penuh dengan rintangan. Saat tiba di bandara Kairo, paspor mereka— hanya berupa selembar kertas kecil yang telah lecek —ditolak oleh petugas imigrasi yang dingin. Hingga akhirnya petugas itu bertanya dengan suara lantang: “Are you Moslem?” (Apakah kalian Muslim?)
Dengan serempak keempat utusan Indonesia itu menjawab, “Yes!”
Dan petugas berseru, sambil tersenyum, “Well, then, Ahlan Wa Sahlan. Welcome!”.
Mereka pun melenggang masuk ke Kairo tanpa hambatan. Itulah awal dari berkah persaudaraan Islam yang tak pernah terputus. Karena di Mesir, identitas sebagai Muslim lebih kuat dari sekadar paspor. Di balik pintu imigrasi itu, terbukalah jalan bagi pengakuan kedaulatan bangsa yang telah berjihad selama tiga setengah abad melawan penjajah Belanda.
IV. Momen Krusial di Istana Kerajaan: Menolak Protes Belanda
Di Kairo, delegasi RI selama tiga bulan penuh bernegosiasi, menjelaskan tentang Indonesia kepada para wartawan, dan mencari dukungan. Nama Indonesia mulai sayup-sayup muncul menghiasi media di Mesir. Hingga pada suatu malam, tibalah saat yang paling menentukan. Mereka dijadwalkan bertemu dengan Perdana Menteri sekaligus Menteri Luar Negeri Mesir, Nokrashi Pasha, pada 10 Juni 1947.
Saat rombongan Indonesia tiba di ruang Kementerian Luar Negeri, mereka harus menunggu sekitar setengah jam. Di dalam ruangan itu, suasana sedang tegang. Duta Besar Belanda untuk Mesir sedang bercakap-cakap dengan PM Nokrashi Pasha.
Duta Besar Belanda itu mati-matian memprotes rencana pengakuan Mesir terhadap Indonesia. Dengan nada tinggi, ia berpropaganda bahwa Republik Indonesia adalah hasil kolaborasi kaum ekstrimis dan fasis Jepang, bahwa Soekarno dan Hatta akan diadili sebagai penjahat perang oleh Sekutu. Ia meminta Mesir untuk tidak mengakui Indonesia dan membatalkan pertemuan.
Namun keteguhan iman berbicara lebih keras dari politik. Dengan tenang namun penuh wibawa, PM Nokrashi Pasha menatap mata Duta Besar Belanda itu dan berkata:
“Menyesal sekali kami harus menolak protes Tuan. Mesir adalah negara berdaulat, dan sebagai negara yang berdasarkan Islam, kami tidak bisa tidak mendukung perjuangan bangsa Indonesia yang beragama Islam.”.
Dengan muka kecut, Duta Besar Belanda itu pun meninggalkan ruangan. Delegasi Indonesia dipersilakan masuk. Momen itu digambarkan oleh AR Baswedan sebagai sesuatu yang sangat mengharukan—tidak terlukiskan dengan kata-kata. Tangis haru membasahi pipi para delegasi. Kemudian, Perjanjian Persahabatan antara Republik Indonesia dan Mesir resmi ditandatangani. Di atas kertas putih itu, H. Agus Salim menandatangani atas nama Indonesia, sementara PM Nokrashi Pasha menandatangani atas nama Mesir.
Dengan demikian, pada 10 Juni 1947, Mesir secara resmi mengakui kedaulatan Indonesia secara de jure——pengakuan de jure pertama dari negara mana pun di dunia
V. Surat Cinta dari Mesir: AR Baswedan Memanggul Amanah
Namun perjuangan belum selesai. Naskah perjanjian yang telah ditandatangani itu harus segera sampai ke tangan Presiden Soekarno di Yogyakarta. Belanda yang mengetahui hal itu pasti akan berusaha mencegat. H. Agus Salim yang bijaksana segera memerintahkan AR Baswedan—seorang jurnalis militan yang juga menjabat sebagai Menteri Muda Penerangan —untuk membawa pulang dokumen bersejarah itu.
“Saya tidak peduli Saudara hidup atau mati,” kata H. Agus Salim dengan tegas. ”Yang penting surat itu harus sampai ke Indonesia.”
Dan berangkatlah Baswedan sendirian, dengan kantong kosong, dengan nyaris tanpa bekal. Di dalam pesawat, ia terus-menerus memikirkan berbagai cara agar dapat menyampaikan “surat super penting” itu. Surat cinta dari Mesir—begitu sejarawan menyebutnya—yang berisi pengakuan kedaulatan pertama yang ditandatangani oleh pemerintah Mesir.
Perjalanan pulangnya terhampar penuh duri. Baswedan singgah di Singapura, tetapi di sana ia terdampar, karena Belanda dengan sengaja tidak mengeluarkan visa untuknya. Tak seorang pun menjemput di bandara. Uangnya betul-betul menipis. Kantongnya melompong. Selama hampir sebulan, ia terkatung-katung di Singapura, terus-menerus membayangkan bagaimana dirinya akan mati-matian mempertahankan surat itu meskipun Belanda menangkapnya.
Namun pertolongan Allah selalu dekat. Baswedan akhirnya bertemu dengan Ibrahim Assegaf dan Ali Thalib Yamani, para saudagar dermawan yang bersimpati pada perjuangan Indonesia. Mereka membantunya mendapatkan tiket pesawat ke Jakarta. Pada 13 Juli 1947, pesawat KLM yang ditumpanginya akhirnya terbang menuju Kemayoran. Di dalam sakunya yang paling dalam tersimpan rapat sebuah dokumen—lebih berharga dari emas mana pun—yang akan mengubah sejarah diplomasi Indonesia selamanya.
AR Baswedan, dengan segala kerendahan hati dan keberanian seorang pejuang sejati, telah memanggul amanah dengan taruhan nyawa. Ia tidak pernah meminta penghargaan, karena baginya, kemerdekaan Indonesia adalah ganjaran yang paling indah.
VI. Buah Manis Pengakuan Internasional
Begitu surat itu sampai di Yogyakarta, Kabinet Indonesia yang dipimpin oleh Perdana Menteri Amir Sjarifoeddin segera bersidang pada 19 Juli 1947. Baswedan melaporkan hasil misi diplomatik yang gemilang itu. Dan mulailah domino pengakuan internasional berjatuhan.
Pada 22 Maret 1946 Mesir sebenarnya sudah memberikan pengakuan secara de facto, dan kini dengan penandatanganan perjanjian itu, pengakuan de jure pun resmi melengkapi. Kairo menjadi pusat kemenangan diplomasi Indonesia. Proklamator Bung Hatta sendiri menyatakan dengan penuh keyakinan:
“Kemenangan diplomasi Indonesia dimulai dari Kairo. Karena dengan pengakuan Mesir dan negara-negara Arab lainnya terhadap Indonesia sebagai negara yang merdeka dan berdaulat penuh, segala jalan tertutup bagi Belanda untuk surut kembali atau memungkiri janji.”
Setelah Mesir bergerak, negara-negara Arab lainnya segera menyusul. Lebanon mengakui Indonesia pada 29 Juni 1947, Suriah dan Irak pada 2 Juli 1947, Afganistan pada 23 September 1947, Saudi Arabia pada 24 November 1947, dan Yaman pada 3 Mei 1948.
Kesenjangan diplomasi telah ditutup. Indonesia tidak lagi berjuang sendirian di panggung dunia.
Penutup: Membasahi Hati yang Lupa
Saudaraku, jika kita membaca lembaran sejarah ini dengan mata hati yang bersih, kita akan menemukan satu benang merah yang tak pernah terputus: Ini adalah kemenangan persaudaraan kaum Muslimin sejati.
Mufti Palestina yang masih sibuk dengan perjuangan melawan Zionis, tetap menyempatkan diri untuk menyuarakan kemerdekaan Indonesia. Ikhwanul Muslimin yang tengah membangun gerakan kebangkitan Islam di Mesir, mengerahkan massa dan politiknya untuk mematahkan lobi Belanda. Hasan Al-Banna yang menjadi simbol kebangkitan dunia Islam, rela datang ke Yogyakarta untuk menyatakan dukungannya secara terbuka.
Dan AR Baswedan? Seorang jurnalis berdarah Arab-Indonesia, yang dengan kantong kosong, dengan penuh keberanian, membawa pulang dokumen pengakuan kedaulatan pertama. Ia terdampar, ia terlunta, ia kelaparan—tetapi surat itu tetap utuh di tangannya. Karena baginya, amanah adalah segalanya. Karena kemerdekaan adalah rahmat yang harus dijaga dengan jiwa dan raga.
Semoga Allah mencurahkan rahmat terindah pada jiwa-jiwa agung ini: Syeikh Amin Al-Husaini, Hasan Al-Banna, para Ikhwanul Muslimin yang tulus, serta para pejuang bangsa seperti H. Agus Salim dan AR Baswedan. Mereka mengajarkan bahwa cinta kepada tanah air tidak pernah sendirian; bahwa ukhuwah Islamiyyah adalah benteng yang paling kokoh di kala dunia sedang berusaha menghancurkan kita; dan bahwa dengan ketulusan dan keberanian.
Sekarang, setiap langkah kecil kita menjalankan syariat dan menolong saudara yang tertindas, sesungguhnya kita sedang menghidupkan kembali ruh perjuangan mereka. Karena mereka bukan sekadar pahlawan bagi bangsanya sendiri—mereka adalah pahlawan bagi seluruh umat manusia yang mencintai keadilan.
Allahu Akbar! Kemerdekaan Indonesia, yang lahir dari persatuan segenap kekuatan Islam sedunia, adalah kemenangan bagi seluruh umat yang merindukan keadilan dan kebenaran.

Posting Komentar untuk "Jejak Panjang Dukungan Kemerdekaan RI Hingga Surat Pengakuan Dari Mesir"